RUANG EDUKASI

  • Home
    • Beranda
    • Profil
  • Features
    • Artikel
    • Resensi
    • Opini
  • Contact Us
    • Instagram
    • Facebook
    • Tiktok
    • Youtube
    • Email

Article

Reviewer

Opinion

 


RESENSI BUKU: FILSAFAT KEBAHAGIAAN

Sebagai seorang manusia kita sering kali mencari sumber bahagia, karena kita selalu ingin mengejar kebahagiaan dan menghindari ketidakbahagiaan. Dalam buku filsafat karya Fahruddin Faiz mengatakan bahwa “Allah menciptakan kita untuk bahagia. Kita pun jangan mencari-cari alasan untuk tidak bahagia. Mari berbahagia, sekarang, disini, seperti ini.”

Untuk mendalami pemikiran beliau tentang konsep kebahagiaan, penulis membuat resensinya sebagai berikut!

 

Judul Buku    : Filsafat Kebahagiaan (Dari Plato, via Al-Farabi, dan Al-Ghazali, sampai Ki Ageng Suryomentaram)

Penulis               : Fahruddin Faiz

Penerbit             : PT Mizan Pustaka

Tahun Terbit       : Cetakan III/ Maret 2024

Jumlah halaman : 284 halaman

Harga buku         : Rp89.000

Nomor ISBN        : 978-602-441-332-3

 

Dimulai dari kegalauan hidup, Penulis mencari-cari konten yang menarik dan sesuai keadaan hati saat itu. Hingga muncul di beranda Youtube “Kajian Filsafat” yang membahas ketenangan hidup dalam perspektif filsafat namun dengan bahasa yang mudah dipahami dan pembawaan yang bijaksana oleh Fahruddin Faiz sebagai pematerinya.

 

    Serta akun instagram @logikafilsuf yang sering mengupload video ceramah kajian filsafat Pak Faiz, membuat penulis update tentang penerbitan buku “Filsafat Kebahagiaan Dari Plato, via Al-Farabi, dan Al-Ghazali, sampai Ki Ageng Suryomentaram”.

 

Kebahagiaan merupakan unsur kehidupan yang diidamkan oleh manusia, baik secara esensial maupun eksistensial. Dalam tulisannya, kita diciptakan untuk bahagia dengan segala fasilitas yang Allah berikan. Tinggal kita mau mendayagunakan fasilitas itu dengan optimal. 

Orang dikasih akal, tapi tidak mau berpikir. Orang dikasih imajinasi, tapi tidak mau kreatif. Orang dikasih insting, tapi dibiarkan. Orang dikasih naluri, tapi dimatikan. Maka itulah sesungguhnya sumber ketidakbahagiaan.

 

Dari keempat filsuf yang terkenal seperti Plato dari tradisi filsafat Yunani yang rasional-idealis, al-Farabi dari tradisi filsafat islam yang rasional-religius, Imam al-Gahzali dari tradisi filsafat islam yang religius-spiritual, dan Ki Ageng Suryomentaram dari Jawa yang arif-realistis masing-masing dari mereka mengembangkan bentuk filsafat kebahagaiaan sesuai dengan gaya berpikirnya.

 

Kelebihan buku ini: disajikan dengan bahasa yang filsafat yang mudah dipahami bagi orang awam. Membaca tulisannya seperti sedang mendengar kajian filsafat yang beliau lakukan secara rutin di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta.

Kelemahan: buku ini disajikan secara singkat tentang pemikiran 4 tokoh filsufnya.

 

Buku ini sangat direkomendasikan bagi manusia yang selalu bertanya dan mencari sumber kebahagiaan. Sebagai bekal dalam pencarian bahagia menurut Al-Ghazali waspadailah syahwat dan amarah, serta carilah ilmu. Maka sangat penting menjadi orang pintar, dengan tahu ilmunya maka dia bisa melakukan amal baik. Dengan melakukan amal baik, otomatis kebahagiaannya akan datang karena kepandaiannya, dia tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, berapa batasnya, kapan sudah berlebihan dan seterusnya.

 

Demikian resensi bukunya, semoga bermanfaat untuk manusia pencari bahagia.


“setiap orang bisa menjadi guru, dan setiap rumah bisa menjadi sekolah” – Ki Hajar Dewantara

Rasanya kutipan tersebut harus selalu diingat bagi siapapun yang menjadikan kehidupan sebagai pelajaran. Semakin berkembangnya zaman, tidak hanya mengubah tentang teknologi tapi juga mindset. Saat ini kita dituntut untuk berpikir maju ke depan dengan sudut pandang yang lebih luas dan terbuka. Kita boleh saja belajar dari negeri manapun atau teori dari ilmuwan mana yang mau kita jadikan pedoman. Namun perlu dipahami, setinggi apapun Pendidikan atau berapa banyak gelar yang diraih. Jangan sampai kita melupakan jati diri sebagai individu, seorang muslim dan bagian dari Bangsa Indonesia.

Didalam sebuah kanal Youtube ada kajian menarik dari seorang filsuf Indonesia Dr. Fahruddin Faiz. Beliau memberikan penjelasan terkait pentingnya menjadi seorang yang berilmu. Orang-orang yang duduk dibangku sekolah haruslah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu bukan semata untuk mendapatkan selembar Ijazah sebagai tujuan. Orang yang berilmu hidupnya akan tentram, dengan ilmunya karamah atau keberkahan itu akan datang. Mereka yang terus belajar akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya seperti beasiswa Pendidikan, pengalaman atau kerjaan yang baik.

Mangkunegara kaping sekawan mengingatkan 3 karakter utama yang harus dimiliki bagi pencari ilmu. Dr. Fahruddin Faiz dalam kajiannya menjelaskan ketiga karakter tersebut, yaitu:

1    1. Lilo

Lilo itu lilo lamun kelangan nora gegetun, yang artinya rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa. Pencari ilmu harus memiliki  kerelaan atau seseuatu yang dikorbankan. kIita tak boleh larut dalam kecewa yang berkepanjangan, hati selalu teringat akan yang hilang itu sehingga tak lagi mampu berpikir jernih dan bertindak bijak.

Ketika orang-orang menghabiskan waktu istirahat dengan tidur atau bermain game maka dia menggunakan waktunya untuk belajar. Memilih membeli buku dari pada membeli satu slop rokok saat memiliki uang. Ceritanya dulu tidak punya uang untuk membeli buku, sekarang bisa beli buku yang mana saja tapi tidak punya waktu untuk membacanya. Itulah ujian para pencari ilmu.


2. Trimo

Trimo itu trimo yen lamun ketaman sakserik sameng dumadi. Artinya menerima bila mendapat
perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Orang yang mencari ilmu harus diperbesar lagi rasa sabarnya, miliki rasa terima (ridho) ketika mendapatkan perlakuan kurang baik. Namun bukan berarti kita menerima begitu saja bila hati kita disakiti orang lain, melainkan lebih bermakna bahwa kita jangan sampai sakit hati hanya karena perlakuan orang lain. Hati kita harus kuat dan besar, agar tidak mudah tersakiti.

 

3.  Legowo

Legowo itu legowo nalangsa srah ing Bathara, memiliki arti bahwa harus ikhlas menyerahkan kepada Tuhan. Ini berkaitan dengan setiap usaha dan amalan kita sehari-hari. Jangan terlalu berharap dan panjang angan. Teruslah mencari ilmu, karena kita tak tahu apa yang sesungguhnya baik untuk kita. Maka dalam segala hal kita harus mengikhlaskan setiap usaha kita, seraya dengan penuh kerendahan (nalangsa) menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

 

        Demikianlah tiga hal utama yang dapat menjadi pegangan bagi para penuntut ilmu. Semangatlah mencari Ilmu sebab Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman berdasarkan ilmu dan keimanan yang Allah berikan pada mereka. Ayo, belajar dan mengajarkan supaya ilmunya, bermanfaat.


 


Pertama-tama aku bersyukur sekali karena sebelum lulus kuliah, aku memiliki tempat untuk mengabdi dan berproses. Karena di semester akhir, aku benar-benar berpikir apakah harus berjalan sebagai seorang pendidik atau diluar dari itu. Aku sendiri pernah merasakan takut karena merasa belum siap bekerja, belum siap pula jika harus benar-benar terjun sebagai seorang guru dan mengajar di sebuah sekolah dasar. 

Beberapa kali aku ikut pengabdian mengajar di desa bersama rekan organisasi Cempaka (Cendekiawan Muda Pergerakan) di daerah perantauan namun masih belum cukup percaya diri di kampung sendiri. Selama 4-6 bulan aku sesekali harus bolak balik ke kampus dan beraktivitas di Tangerang.  Itu perjuangan yang cukup membanggakan bagiku, bahkan penghasilan yang aku terima di tempat mengajar saat itu hanya cukup biaya transportasi pulag pergi dari rumah.

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar dan bertemu siswa saja, tapi bertemu sesama rekan guru, wali murid dan warga sekolah lain. Aku harus pandai dalam bersosialiasi dan menjaga hubungan semuanya. Saat aku bergabung sebagai tutor Homeschooling dan Pengurus PKBM, aku belajar sekaligus praktik mengajar secara professional.

Salah satu alasan aku mau bergabung sebagai Tim dari Kak Fadhil karena aku yakin ini bisa jadi awal untuk berproses menjadi guru yang sesungguhnya. Aku benar-benar memulai dari awal tanpa ada relasi dari keluarga atau teman sebelumnya. Aku merasa bangga karena akhirnya bisa mandiri dalam memulai karir sebagai guru.

Di Homeschooling dan PKBM, aku menemukan berbagai macam karakter murid dan warga belajar. Pengalaman aku mengajar anak-anak yang memiliki bakat khusus itu sangat luar biasa, aku bertemu Vina yang berbakat dalam menggambar namun cenderung tak banyak bicara. Aku bertemu Khonsa yang bercita-cita menjadi juru masak dan Youtuber namun memiliki jiwa pemalu. Aku bertemu Raisa yang ingin belajar namun memiliki keluarga yang kurang support untuk menghantarkan ke tempat belajarnya. Serta dua anak lainnya yang juga memiliki hal menarik dalam hidupnya.

Perasaan aku sangat merasa senang Ketika untuk pertama kalinya, mengajar warga belajar sebutan bagi yang mengikuti program sekolah paket. Aku merasa seperti seorang dosen yang memberikan materi kepada mahasiswanya, tipe warga belajarnya juga sangat beragam. Bahkan ada yang usianya jauh lebih tua, lebih muda bahkan seusia pun ada. Karena memang yang belajar adalah usia dewasa, maka aku melakukan pendekatan seperti teman diskusi.

 


Aku juga belajar tentang mengatur sebuah lembaga. Alhamdulilah, aku di percaya sebagai Bendahara dan admin dalam mengelola keuangan dan sebagian program yang dijalankan untuk siswa Homeschooling dan PKBM. Pada akhirnya aku merasa telah mencapai goal ketika PKBM ini telah terdaftar di dapodik. Setelah berbagai proses, rasa sabar, tanggungjawab, dan perdebatan bersama tim hebat adalah pengalaman yang luar biasa.

 

Dari sini aku mulai merencanakan target selanjutnya, satu tahun aku di PKBM untuk pembentukan karakter, sosialisasi dan teman baru. Dan akhirnya aku memutuskan untuk meningkatkan kapasitas diri dengan mengajar di Swasta pada tahun berikutnya.

Terima kasih untuk orang-orang hebat telah mengajariku banyak hal.

                                                                                                                            With love,

 

      RAA





Islam datang membawa kedamaian bagi pemeluknya. Setiap ajarannya mengandung kebaikan bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Allahi wa Sallam sebagai utusan, telah menjadi seorang tokoh dunia yang paling berpengaruh dan sebaik-baiknya suri tauladan.

Sejarah islam telah menceritakan bagaimana perjalanan dakwah bagi setiap umat dan pemimpinnya, ketika berjuang menyebarluaskan islam. Sayangnya, perjuangan tak semudah itu karena mereka sulit menerima ajaran baru diluar dari nenek moyangnya. Namun Rasulullah SAW memberikan contoh bagi pengikutnya agar tetap teguh memperjuangkan islam, meski mendapatkan ponalakan dari keluarganya sekali pun.

Begitu pula yang diajarkan Rasulullah kepada sahabat dan generasi muslim terbaik yang kita kenal sebagai pejuang islam, seperti: Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin  Abu Thalib, Abdurahman bin Auf, Mua’wiyah bin Abdul Muthalib, Khalid bin Walid, Umar bin Abdul Aziz, Muhammad Al-Fatih, Salahuddin Al-Ayubi, dan lainnya.

Proses penyebaran islam di berbagai belahan dunia melahirkan kisah baru dari tokoh-tokoh muslim terbaik dalam menaklukan wilayah. Keberhasilan islam menguasai satu kota ke kota lain membuat kebanggaan bagi umat muslim karena ajaran islam akan mewarnai dunia dengan damai. Salah satu bangunan bersejarah yang ditaklukan islam, kini menjadi perhatian dunia adalah Hagia Shopia, dimana artistektur bangunannya sangat kental akan budaya islam, meski corak ortodoks tetap menghiasi dinding atasnya.

Keputusan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengembalikan museum Hagia Shopia sebagai masjid menuai kontroversi. Dunia menentang langkah Erdogan, kritik bermunculan dari pemimpin Negara dan pemimpin agama dunia. Paus Fransiskus mengungkapkan kekecewaanya atas perubahan status tersebut. Sedangkan umat muslim di seluruh dunia gembira dan berantusias ingin shalat berjamaah di masjid Hagia Sophia yang juga diresmikan pada hari jum’at 24 juli 2020.

            Selama 15 abad terakhir Hagia Sophia menjadi saksi bisu sejarah berlangsungnya transisi rezim yang menguasai Konstantinopel (Istanbul), mulai dari kuil pagan, Kekaisaran Byzantium penganut Katolik Ortodoks, Kesultanan Ottoman (Utsmaniyah) sampai era Turki modern. Lalu bagaimana Islam memberikan pengaruh pada Hagia Shopia yang berada diantara benua Eropa dan benua Asia tersebut?  Yuk, simak tulisannya.

 


Hagia Shopia

Dilansir dari History.com, Hagia Sophia dalam bahasa Turki disebut Ayasofya pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad lamanya.

Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun, namun pernah dilarang pada periode singkat di abad ke-13, ketika tempat ini diubah menjadi Katedral Katolik Roma dibawah kontrol pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib Keempat.

Tetapi pada tahun 1453, Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II menguasai Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium untuk selamanya.

Saat memasuki Hagia Sophia, Mehmed II berkeras untuk merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Sultan Mehmed II menghadiri salat Jumat pertama di gedung itu. Sedangkan para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya. Sampai penyelesaian pembangunan Masjid Biru di Istanbul pada 1616, Hagia Sophia adalah masjid utama di kota tersebut, dan arsitekturnya mengilhami pembangunan Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia.

Sultan Mehmed II Sang Penakluk Konstantinopel

Status Hagia Sophia dikonversi menjadi masjid setelah penaklukan konstantinopel oleh Sultan Mehmed II. Nama Hagia Sophia masih dipertahankan oleh Sultan Mehmed II. Sebagaimana arti kata sophia dalam bahasa Yunani adalah kebijaksanaan, maka arti lengkap dari Hagia Sophia adalah tempat suci bagi Tuhan. Sultan Mehmed II mempertahankan kesucian Hagia Sophia dan hanya mengubah status fungsinya dari gereja menjadi tempat ibadah umat Islam selama 482 tahun.

Saat berubah menjadi masjid di era Mehmed II, banyak mosaik dan lukisan bercorak Kristen yang menghiasai bangunan Hagia Sophia, ditutupi dan diplester. Seniman kaligrafi terkenal pada masa itu, Kazasker Mustafa İzzet, kemudian mengguratkan tulisan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, empat khalifah pertama, dan dua cucu Rasulullah SAW, di beberapa bagian interior Hagia Sophia.

Pada masa Kesultanan Ottoman, struktur bangunan Hagia Sophia memperoleh sentuhan arsitektur Islam. Misalnya, mihrab yang kemudian dibangun, hingga pendirian empat menara yang digunakan sebagai fitur dekoratif masjid.  Menara ini berfungsi praktis untuk panggilan adzan  dan pengumuman lainnya. Namun, bagi  Ottoman menara merupakan simbol fisik yang kuat dari kemenangan Islam, bukti eksternal dari konversi arsitektur Kristen ke Islam. Tidak mengherankan, jika dikatakan bahwa menara pertama didirikan di Hagia Sofia adalah penanda Islam. Daripada menghancurkan peninggalan budaya, Mehmet II mengambil alih kembali “prestise” dan kekuatan simbolis Hagia Sofia untuk tujuan politiknya sendiri.

Sekulerisasi Ala Mustafa Kemal Ataturk

            Berakhirnya kesultanan Ottoman, telah melahirkan pemerintahan Kemal Ataturk dengan mengubah Turki menjadi Republik. Hagia Sophia pun kembali beralih fungsi. Sebagai pendiri dan presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Setelah Hagia Sophia menjadi museum, dilakukan restorasi mosaik-mosaik kuno di bangunan ini dan plester penutupnya dibuka. Maka pada saat membuka plester ornamennya, tampaklah lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus, yang ternyata sejajar dengan kaligrafi Allah dan Muhammad SAW.

Bagaimanapun Hagia Shopia menjadi simbol kemenangan Islam atas  Kekristenan di bawah kesultanan Ottoman. Pengalihan fungsi Hagia Sofia menjadi  musuem oleh Pemerintah Republik Turki baru adalah manuver politik yang disengaja untuk menunjukkan agenda sekuler baru rezim Ataturk dengan menelanjangi salah satu simbol keagamaan paling penting dalam sejarah. Namun, konversi menjadi monumen ditengarai untuk menghindari konflik antara dua agama: Kristen dan Islam  yang telah mengklaim bangunan berusia berabad-abad tersebut  menjadi simbol kontroversi agama dan meningkatnya politisasi.

Hagia Sophia kemudian diakui sebagai salah satu dari situs Warisan Dunia UNESCO yang disebut area bersejarah Istanbul, sejak tahun 1985. Dalam keputusan itu dinyatakan,   karena signifikansi sejarahnya, alih fungsi Masjid Hagia Sofia, sebuah monumen seni arsitektur unik yang terletak di Istanbul, menjadi museum akan menyenangkan seluruh dunia Timur, dan konversi ke museum akan membuat umat manusia memperoleh sebuah institusi pengetahuan yang baru.

Hagia Sophia telah menjadi sangat terpolitisasi dan menjadi kontestansi antara Kristen, Islam, dan sekularisme.  Partai-partai yang berhaluan kanan saling menggantikan, dan pada Januari 1989, Ertekin Durutürk, yang dikenal sangat dekat dengan Demirel, mengusulkan RUU pada Majelis Nasional Turki, meminta Hagia Sofia untuk dibuka  kembali sebagai masjid dan  Alquran dibaca sepanjang waktu di bagian Relik Suci Istana Topkapi. Antara 1989 dan 1994, suara  ekstrim kanan meningkat dari 13,90% menjadi 28,66%, membenarkan kebangkitan Fundamentalisme Islam, dan khususnya pemulihan Hagia Sofia sebagai bagian dari ikon tujuan mereka. 

 

Recep Tayyip Erdogan Mengulang Sejarah

Status Hagia Sophia hingga kini masih diperdebatkan, termasuk mengembalikan fungsi bangunan tersebut sebagai rumah ibadah bagi umat islam yang di resmikan oleh Presiden Turki saat ini.

Presiden Erdogan telah menggaungkan tuntutan tersebut. Pada pidato kampanye menjelang pemilihan lokal tahun lalu, dia mengatakan mengubah Hagia Sophia menjadi museum merupakan kesalahan besar. Sejak saat itulah, Erdogan dilaporkan meminta para pejabat terkait untuk mengetahui bagaimana mengubah fungsi bangunan bersejarah itu.

Perjalanan panjang Hagia Sophia pada Era Pemerintahan Erdogan saat ini memutar lagi. Karena putusan pengadilan administrasi utama Turki, status Hagia Sophia sebagai museum dicabut pada 10 Juli 2020. Pada masa pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan ini, Hagia Sophia diubah status fungsinya kembali menjadi masjid. Perubahan ini menuai kontroversi. Begitu kontroversialnya, Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis dari Yunani menuding keputusan itu sebagai penghinaan terhadap karakter ekumenis dari Hagia Sophia.

Sementara itu, UNESCO memberi peringatan bahwa perubahan status Hagia Sophia harus ditinjau oleh komite badan PBB tersebut. Oleh karena Hagia Sophia sejak 1985 dianggap bagian dari Situs Warisan Dunia, pengubahan status bangunan ini harus diberitahukan terlebih dahulu dan melalui proses peninjauan UNESCO. "Penting untuk menghindari keputusan apa pun sebelum berunding dengan UNESCO, yang akan memengaruhi akses fisik ke situs, struktur bangunan, properti yang dapat dipindahkan, atau manajemen situs bersejarah," kata Ernesto Ottone, Asisten Direktur UNESCO belum lama ini.

Menurut UNESCO, tindakan-tindakan semacam itu bisa dianggap pelanggaran aturan yang sudah tertera di Konvensi Warisan Dunia 1972.  Rencana Erdogan membuat amarah di Yunani. Menteri Luar Negeri Yunani George Katrougalos mengatakan bahwa persoalannya bukan karena katedral Kristen yang terbesar selama berabad abad, namun juga milik umat manusia yang telah diakui Oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya global. Maka setiap pernyataan tentang status Hagia Sofia bukan hanya penghinaan terhadap sentimen orang Kristen, tetapi penghinaan terhadap komunitas internasional dan hukum internasional.

Walau keputusannya tersebut  mendapatkan penolakan secara terbuka, Presiden Recep Tayyip Erdogan tetap teguh dengan menandatangani dekrit yang telah dibuat. Sedangkan media juga ikut berperan dengan memberikan Framing kepada Erdogan sebagai pemimpin yang buruk. Menjadikan Hagia Shopia sebagai masjid kembali merupakan kekeliruan besar  dan dianggap melukai hati umat manusia di dunia, karena status Hagia Sophia sebelumnya adalah museum sejarah dan telah menjadi warisan dunia yang tercatat oleh UNESCO.

Peresmian masjid Hagia Sophia menjadi bukti pengulangan sejarah bagi umat islam yang sebelumnya bangunan megah bersejarah tersebut berhasil ditaklukan oleh pasukan terbaik dari pemimpin terbaik bernama Sultan Mehmed II atau dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih. Kisah ini  sesuai sabda Rasulullah SAW,  “Sesungguhnya            akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu,  dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhari 139)

Demikian tulisan tentang Hagia Sophia yang mengkisahkan kembali perjuangan umat islam masa lalu hingga saat ini. Semoga ­ghirah pembaca semakin tinggi terhadap islam.

Jazakumullah khairan katsiraan..

 


Referensi

Sokarba, S. R. (2020). Transformasi Makna Ruang dan Tempat pada Hagia Sofia, Istanbul,

Turki. Jurnal Middle East and Islamic Studies, 7 (1).

https://dunia.tempo.co/read/1364070/sejarah-hagia-sophia-dari-gereja-masjid-hingga-museum?page_num=1

https://tirto.id/sejarah-hagia-sophia-museum-yang-dijadikan-masjid-oleh-erdogan-fQVy

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53259317

https://youtu.be/QeOMzLqSSeM


Throwback, jurnal saya akan dimulai  dari sini.

Multatuli

Awal  tahun 2018 ,  setelah  libur semester genap.  Saya  mengalami  kebingungan harus apa  dan bagaimana. Sebab  organisasi  Cempaka  (Cendekiawan Muda Pergerakan) yang  saya  ikuti  terpaksa rehat  sejak  6  bulan sebelumnya. Saya pun  tidak punya kegiatan pasti selain menjadi relawan dari  Komunitas Mahsiswa Peduli.

Suatu ketika saya  bertemu dan ngobrol  dengan teman  kelas  bernama  Wisnu, Fadea dan Restu.  Kita banyak diskusi tentang  literasi dan huru-hara  di  kampus.  Kami  pun  punya  agenda  untuk  berkunjung  ke  acara  peresmian  museum  Multatuli  di  Lebak, Banten.

Tepat di hari sabtu, ternyata mahasiswa  yang  ikut  acara  tersebut  banyak  dari  teman  seangkatan yang  berkumpul di lapangan kampus UPI Serang. Kami  berangkat bersama menggunakan kereta  pada  pukul 07.30 WIB.

Selama perjalanan,  posisi duduk saya berhadapan dengan Eva Sulvianti  pengurus  dari TBM Rosa.  Kami  ngobrol banyak mengenai  kegiatan masing-masing  di  dalam dan luar kampus. Dia adalah salah satu mahasiswi yang terkenal aktif dan memiliki  jaringan luas di kampus.

Sepanjang perjalanan selama 1 jam di kereta,  kami asyik ngobrol dan tidak sadar bahwa satu stasiun lagi kita akan berhenti di tempat tujuan. Herannya, bapak yang berada disamping saya bangun dari tidurnya dan langsung gabung dalam obrolan kami. Ternyata selama tidurnya, beliau mendengar semua perbincangan kami. (Maaf, saya lupa nama bapak itu).

Beliau juga memberitahu bahwa sedang aktif melakukan kegiatan sosial di Cilegon. Kegiatannya sama seperti saya di KMP membagikan nasi gratis setiap jumat, hanya saja target beliau ditunjukan kepada mereka yang berseragam orange (petugas sampah/ bersih-bersih jalan). Saya pun meminta kontak beliau dengan harapan bisa bekerja sama nanti ketika melakukan kegiatan akbar di daerah Baduy muslim berada.

Saya, Eva  dan teman-teman lainnya pun bersegera turun di stasiun rangkas dan pamit kepada bapak yang ingin bekerja menuju kantornya tersebut

Pengalaman luar biasa, kami tiba di stasiun dan langsung menuju meseum dengan angkot merah yang ada disana. Eva mengajak kami semua bertemu  dengan berbagai relawan TBM yang buka lapak, Tulus Lamboy salah satu teman kami menampilkan pembacaan puisi diiringi musik dan sorak-sorak dari pengunjung. Kemudian kami melakukan Swafoto untuk mengabadikan momen ini.

Kami mengelilingi museum setelah resmi dibuka pukul 09.00 WIB. Ketika asyik melihat setiap sudut ruang yang berisi foto, peta dan mini film yang menggambarkan kisah tokoh Douwes Dekker, kami bertemu Kang Maman yang terkenal sebagai notulen dan membacakan berita acara dengan apik.


Motor Literasi

Selanjutnya kami pergi ke perpustakaan  Saidjah Adinda di Rangkasbitung yang berada tidak jauh dari museum. Di lantai ke dua yang berisi buku dan sofa yang ­empuk kami disambut dengan komunitas Moli (motor literasi). Bersama dengan teman-teman lain dari berbagai daerah, kami saling ­Sharing tentang literasi pada minat baca anak-anak dan teman seusia kami.



Bicara tentang penting ga sih membaca? Kenapa minat baca orang Indonesia itu berada diurutan kedua dari bawah?

Memang perlu diketahui budaya membaca Indonesia memang sangat kurang dan menjadi PR bersama untuk menyadarkan mereka agar senang membaca. Maka bagi penggiat literasi sangat senang atas berdirinya TBM (Taman Bacaan Masyarakat) di lingkungan sekitar. Sebagai tempat yang menarik orang-orang untuk menjadi bagian dalam menggalakkan literasi.

Sebenarnya cara ampuh membangun budaya baca itu harus diawali dari diri sendiri, jangan sibuk mengkampanyekan ‘’Ayo baca” tapi tidak melakukannya.

Setelah melakukan diskusi: Saya, Eva, Anis, Fadea, Restu, Pupu, Dede, Saepul, Wisnu dan Tulus duduk di pelataran untuk membicarakan rencana membangun minat baca mahasiswa di Kampus. Sekaligus momen ini dianggap sebagai rekrutmen relawan TBM Rosa, hingga saya di invite dalam grup WhatsApp-nya.


Rapat Pertama

Sesuai dengan yang diagendakan, kami janjian untuk mengadakan rapat membahas kegiatan literasi di Kampus dalam suasana pemilu presma masa jabatan 2018-2019.

Rapat pertama berjalan dengan baik, namun sayangnya menjadi rapat karena masing-masing dari kami memiliki kesibukkan memegang jabatan penting di organisasinya. Bahkan  ada yang terpilih mengisi jabatan di kabinet Presma yang terpilih dan ditawari menjabat sebagai dewan kampus.  Namun ada juga yang memilih menjadi mahasiswa biasa yang kritis.

Saya sendiri pernah ditawari oleh presma dan ketua dewan kampus untuk membantu menjalankan tugasnya. Namun sayangnya ke khawatiran saya benar terjadi. Saya memilih menjadi dewan untuk mengawasi kinerja presma dan jajarannya di bidang Komunikasi Politik. Namun saya mengakui tidak bekerja dengan maksimal, hingga akhirnya saya memilih mengundurkan diri agar bisa mengkritisi politik kampus.


Mojok.Upi

Selanjutnya saya di rekrut oleh dua manusia kampus yang langkah, yaitu Wisnu dan Tulus. Kami memiliki rencana menjadi mahasiswa gelap dengan mata yang terang benderang. Terinspirasi dari akun Mojok.co yang kritis dengan karya sastranya, kami membuat akun dengan nama Mojok.Upi dengan mengkritisi masalah Wi-Fi yang tidak bisa dijangkau maksimal oleh mahasiswa.

Namun, lagi-lagi program ini tidak berjalan karena kesibukan kami. Terutama saya yag tidak bisa fokus dan belum pernah upload kasus di akun tesebut.

Hingga kami bertiga memulai kembali dengan kesibukan masing-masing, saya fokus pada kegiatan luar di KMP dan merintis Forum Thalaabul ‘Ilmi sedangkan mereka fokus menjadi tim pada salah satu Dosen yang berwawasan luas dan ilmiah bernama Tatang Suratno.

 

Grup  TBM Rosa

Menjadi suatu kebanggaan bisa gabung bersama teman-teman pencinta literasi. Disana banyak diisi oleh orang-orang yang berkompeten dalam bidang menulis. Bahkan sering mengadakan event  untuk mengasah kemampuan menulis relawan dan membacanya, yaitu dengan lomba menulis resensi buku setiap bulannya.

Sayangnya, saya menjadi relawan yang jarang aktif. Hingga suatu ketika pengurus TBM Rosa membuka pendaftaran bagi siapa saja yang berminat menjadi relawan dan memutuskan yang tidak aktif untuk dikeluarkan dari grup. Saya pun menjadi salah satu yang dikeluarkan.

 

Beberapa bulan kemudian, dikala kesibukkan semester akhir yang penuh drama.

Tangerang, memanggil...

Pada siang itu, posisi saya berada di perpustakaan SDN Tembong 2 sedang menjalankan Program Lapangan (PPL). Tiba-tiba ada chat masuk, tapi hanya mengucapkan salam. Saya penasaran dan akhirnya bertanya nama dan keperluan apa?

Ternyata dia adalah aktivis literasi dari Tangerang bernama Achmad Fadillah dengan pendidikan terakhir S2. Dia menanyakan bagaimana perkembangan literasi di kota Serang dan dia memberitahu pernah berkunjung kesini. Rupanya, kita pernah satu grup di TBM Rosa. Bahkan dia mengenal sosok Eva.

Jujur, saya pikir dia masih muda. Ternyata dia sudah cukup dewasa dan berkeluarga dengan memiliki 3 anak yang lucu-lucu.

Kak Fadhil mengundang saya untuk membantu kegiatan pesantren literasi bulan Ramadhan tahun 2019 bersama TBM Benteng Betawi. Saya senang akan hal itu, tetapi saya tidak lantas mengiyakan karena baru kenal dan sedang sibuk menggarap skripsi.

Tak sampai disitu, kak Fadhil juga menjelaskan dia punya proyek untuk saya. Saya tertarik, hingga akhirnya kita membuat janji untuk membahasnya.

Tepat H-7 Perayaan hari raya idul fitri, kami bertemu di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari rumah belakang Banjar Wijaya. Dia mengatakan memiliki Homeschooling, dimana kegiatan belajarnya hanya 3 kali dalam seminggu. Program belajar ini lebih mengutamakan minat dan bakat.

Setiap bulan akan ada yang namanya Outing Class  untuk mereka belajar di luar ruangan. Biasanya melakukan kunjungan ke Museum, taman safari, seminar dan lain-lain. Dia juga menjelaskan tentang karakteristik dari siswanya yang beragam. Ada yang  pendiam, tidak banyak bicara, dan juga super aktif. Salah satu Alumni Sekolah Insan Mandiri sedang belajar berbisnis, namanya Muhammad Raihan. M nama panggilannya ini yang akan membantu saya dalam menjalankan dan bergantian jika saya berhalangan hadir.

Kak Fadhil memberikan saya kesempatan untuk berpikir dan mempertimbangkan agar mau bergabung bersamanya. Hingga setelah lebaran kami bertemu kembali di lokasi belajar yang berada di Jalan Flamboyan VI Taman Poris Gaga.

Ada hal-hal yang saya pertimbangkan mengenai honor, waktu dan skripsi. Kemudian saya bertemu dengan anak bernama Aulia Devina yang diam tapi sangat jago gambar itu. Lalu bagaimana saya membuat keputusan dan cara berkomunikasi dengannya?

Nantikan jurnal berikutnya..

Terima kasih, atas waktunya telah membaca jurnalku yang pertama.

 

 

 

 



Sebenarnya apa sih resensi itu? Mungkin sebagian pembaca pernah mendengar istilah tersebut yang identik dengan buku dan film. Biasanya bagi orang-orang yang gemar membaca buku dan menonton film sering sekali memberikan ulasannya mengenai hal tersebut. Bagi mereka yang memiliki hobi menulis akan lebih senang mengulasnya dengan sebuah resensi, dimana penulis akan memberikan rekomendasi apakah filmnya bagus atau tidak dan memberikan gambaran umum tentang isi film tersebut namun tidak diizinkan ada spoiler.

Untuk  lebih  jelasnya,  silahkan  dibaca dengan saksama mengenai resensi  dan cara menulisnya yang baik dan benar!

Pengertian Resensi

Secara etimologi, resensi asalnya dari Belanda, resentie dan Bahasa Latin recensio, recensere atau pula revidere yang mempunyai arti mengulas kembali ataupun melihat kembali. Sementara dalam Bahasa Inggris disebut dengan istilah review.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonsia), resensi berarti sebagai pertimbangan atau pembicaraan dan juga ulasan mengenai buku.

Pengertian Resensi Menurut Para Ahli

Selain penjelasan diatas, terdapat beberapa pendapat juga dari para ahli dan pakar yang berbeda beda dalam mendefinisikan apa yang di maksud dengan resensi. Berikut ini kumpulan definisi resensi menurut para ahli secara lengkap :

·      Panuti Sudjiman (1984)

Resensi ialah hasil pembahasan serta penilaian yang pendek mengenai suatu karya tulis. Konteks ini memberikan sebuah arti penilaian, mengungkap secara sekilas, membahas, ataupun mengkritik buku.

·       Euis Sulastri dkk

Istilah resensi ini asalnya dari bahasa Belanda, resentie, yang artinya kupasan atau pembahasan. Jadi, pengertian resensi ialah kupasan atau pembahasan mengenai buku, film, ataupun drama yang biasanya disiarkan lewat media massa, seperti surat kabar ataupun majalah.

·       Saryono (1997:56)

Resensi ialah sebuah tulisan berbentuk esai dan bukan termasuk bagian suatu ulasan yang lebih besar tentang sebuah buku. Berisi sebuah laporan, ulasan, dan pertimbangan dari baik-buruknya, kuat – lemahnya, bermanfaat – tidaknya , benar – salahnya, argumentative – tidaknya dari buku tersebut. Tulisan tersebut didukung dengan sebuah ilustrasi buku yang diresensi, baik berbentuk foto buku ataupun foto copi sampul buku.
Unsur Unsur Resensi
·       Judul Resensi
            Judul sebuah resensi pasti memiliki kesinambungan dengan isi resensi. Selain itu, judul resensi yang menarik pasti memberi nilai lebih tersendiri.
·         Menyusun Data Buku
                        Penyusunan data buku bisa dilakukan sebagai berikut :
a. Judul
b. Pengarang
c. Penerbit
d. Tahun terbit beserta cetakannya
e. Dimensi buku
f. Harga
·         Isi Resensi Buku
            Isi dari resensi buku isinya mengenai sinopsis, ulasan singkat dari buku dengan kutipan singkat secukupnya, keunggulan dan kelemahan buku, rumusan kerangka buku, dan juga bahasa yang digunakan.
·         Penutup
            Dalam penutup resensi dari buku biasanya isinya mengenai alasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.
Jenis Jenis Resensi
Berikut ini jenis jenis dari resensi, namun yang harus dicatat adalah jenis jenis dari resensi dibawaah ini tidak baku, sebab bisa saja ketiganya diterapkan dengan bersamaan.
  • Resensi Informatif, adalah resensi yang hanya menyampaikan isi dari resensi tersebut secara singkat dan umum dari kesemua isi buku.
  • Resensi Deskriptif, adalah resensi yang membahas secara detail pada setiap bagian atau babnya.
  • Resensi Kritis, adalah resensi yang berupa ulasan detail dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Isi dari resensi biasanya secara kritis dan objektif saat menilai isi buku.
Struktur Teks Resensi
  1. Identitas, yaitu meliputi: judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, lalu tebal halaman, dan juga ukuran dari sebuah buku. Bagian ini kemungkinan tidak dinyatakan secara langsung, seperti yang nampak pada teks ulasan film dan juga lagu.
  2. Orientasi, pada bagian ini biasanya letaknya di paragraf pertama, yaitu penjelasan mengenai kelebihan buku seperti penghargaan yang pernah diperoleh dari buku yang diresensi.
  3. Sinopsis, berbentuk ringkasan yang menggambarkan sebuah pemahaman penulis terhadap isi novel.
  4. Analisis, berbentuk paparan mengenai keberadaan unsur-unsur cerita, seperti tema, penokohan, serta alur.
  5. Evaluasi, berbentuk paparan mengenai kelebihan dan kekurangan suatu karya.
Tujuan Resensi
  • Membantu pembaca memahami gambaran dan penilaian umum dari sebuah hasil karya dengan ringkas.
  • Memahami kelebihan dan kelemahan pada karya yang diresensi.
  • Memahami latar belakang serta alasan sebuah karya dibuat.
  • Menguji kualitas karya lalu membandingkannya terhadap karya lainnnya.
  • Memberi masukan kepada pembuat karya berbentuk kritik dan saran.
  • Mengajak pembaca guna mendiskusikan karya yang diresensi.
  • Memberikan pemahaman dan informasi secara komprehensif kepada pembaca mengenai karya yang diresensi.
Manfaat Resensi
Berikut ini sejumlah manfaat dari resensi :
  • Bahan pertimbangan
Memberikan sebuah gambaran kepada para pembaca mengenai suatu karya dan mempengaruhi mereka dari karya tersebut.
  • Nilai ekonomis
Mendapatkan uang atau imbalan dan buku – buku yang diresensikan dengan gratis dari penerbit buku jika resensinya dimuat di koran atau majalah.
  • Sarana promosi buku
Buku yang diresensikan ialah buku baru yang memang belum pernah diresensi. Dengan demikian, resensi termasuk media untuk mempromosikan buku baru tersebut.
  • Pengembangan Kreativitas
Semakin sering menulis, maka menjadi semakin terasah kebiasaan menulis bagi setiap individu. Hal ini dilakukan guna mengembangkan kreativitas dari menulis.
Nah seperti yang dijelaskan diatas bahwa secara singkatnya, resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya, baik berbentuk buku, seni film serta drama. Demikianlah ulasan tentang pengertian resensi beserta jenis, tujuan, struktur, manfaat dan juga unsur – unsurnya. Semoga penjelasan diatas dapat bermanfaat dan bisa menjadi sebuah referensi pengetahuan dalam memahami apa yang di maksud dengan resensi secara benar.

Older Posts Home

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Penulisan Resensi yang benar: Pengertian, unsur, dan jenis-jenis, lengkap!
  • Resensi: Filsafat Kebahagiaan dari Plato, via Al-Farabi, dan Al-Ghazali, Sampai Ki Ageng Suryomentaran

Categories

  • #Jurnalku 2
  • Artikel 3
  • Opini 1
  • Pendidikan 6
  • Resensi 2

Featured post

Profile

Wikipedia

Search results

Search This Blog

Tentang saya

My photo
robiatuladawiyahraa
View my complete profile

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates