Resensi: Filsafat Kebahagiaan dari Plato, via Al-Farabi, dan Al-Ghazali, Sampai Ki Ageng Suryomentaran

 


RESENSI BUKU: FILSAFAT KEBAHAGIAAN

Sebagai seorang manusia kita sering kali mencari sumber bahagia, karena kita selalu ingin mengejar kebahagiaan dan menghindari ketidakbahagiaan. Dalam buku filsafat karya Fahruddin Faiz mengatakan bahwa “Allah menciptakan kita untuk bahagia. Kita pun jangan mencari-cari alasan untuk tidak bahagia. Mari berbahagia, sekarang, disini, seperti ini.”

Untuk mendalami pemikiran beliau tentang konsep kebahagiaan, penulis membuat resensinya sebagai berikut!

 

Judul Buku    : Filsafat Kebahagiaan (Dari Plato, via Al-Farabi, dan Al-Ghazali, sampai Ki Ageng Suryomentaram)

Penulis               : Fahruddin Faiz

Penerbit             : PT Mizan Pustaka

Tahun Terbit       : Cetakan III/ Maret 2024

Jumlah halaman : 284 halaman

Harga buku         : Rp89.000

Nomor ISBN        : 978-602-441-332-3

 

Dimulai dari kegalauan hidup, Penulis mencari-cari konten yang menarik dan sesuai keadaan hati saat itu. Hingga muncul di beranda Youtube “Kajian Filsafat” yang membahas ketenangan hidup dalam perspektif filsafat namun dengan bahasa yang mudah dipahami dan pembawaan yang bijaksana oleh Fahruddin Faiz sebagai pematerinya.

 

    Serta akun instagram @logikafilsuf yang sering mengupload video ceramah kajian filsafat Pak Faiz, membuat penulis update tentang penerbitan buku “Filsafat Kebahagiaan Dari Plato, via Al-Farabi, dan Al-Ghazali, sampai Ki Ageng Suryomentaram”.

 

Kebahagiaan merupakan unsur kehidupan yang diidamkan oleh manusia, baik secara esensial maupun eksistensial. Dalam tulisannya, kita diciptakan untuk bahagia dengan segala fasilitas yang Allah berikan. Tinggal kita mau mendayagunakan fasilitas itu dengan optimal. 

Orang dikasih akal, tapi tidak mau berpikir. Orang dikasih imajinasi, tapi tidak mau kreatif. Orang dikasih insting, tapi dibiarkan. Orang dikasih naluri, tapi dimatikan. Maka itulah sesungguhnya sumber ketidakbahagiaan.

 

Dari keempat filsuf yang terkenal seperti Plato dari tradisi filsafat Yunani yang rasional-idealis, al-Farabi dari tradisi filsafat islam yang rasional-religius, Imam al-Gahzali dari tradisi filsafat islam yang religius-spiritual, dan Ki Ageng Suryomentaram dari Jawa yang arif-realistis masing-masing dari mereka mengembangkan bentuk filsafat kebahagaiaan sesuai dengan gaya berpikirnya.

 

Kelebihan buku ini: disajikan dengan bahasa yang filsafat yang mudah dipahami bagi orang awam. Membaca tulisannya seperti sedang mendengar kajian filsafat yang beliau lakukan secara rutin di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta.

Kelemahan: buku ini disajikan secara singkat tentang pemikiran 4 tokoh filsufnya.

 

Buku ini sangat direkomendasikan bagi manusia yang selalu bertanya dan mencari sumber kebahagiaan. Sebagai bekal dalam pencarian bahagia menurut Al-Ghazali waspadailah syahwat dan amarah, serta carilah ilmu. Maka sangat penting menjadi orang pintar, dengan tahu ilmunya maka dia bisa melakukan amal baik. Dengan melakukan amal baik, otomatis kebahagiaannya akan datang karena kepandaiannya, dia tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, berapa batasnya, kapan sudah berlebihan dan seterusnya.

 

Demikian resensi bukunya, semoga bermanfaat untuk manusia pencari bahagia.


0 komentar