Throwback, jurnal saya akan dimulai dari sini.
Multatuli
Awal tahun 2018 ,
setelah libur semester
genap. Saya mengalami
kebingungan harus apa dan
bagaimana. Sebab organisasi Cempaka
(Cendekiawan Muda Pergerakan) yang
saya ikuti terpaksa rehat sejak
6 bulan sebelumnya. Saya pun tidak punya kegiatan pasti selain menjadi
relawan dari Komunitas Mahsiswa Peduli.
Suatu ketika
saya bertemu dan ngobrol dengan teman
kelas bernama Wisnu, Fadea dan Restu. Kita banyak diskusi tentang literasi dan huru-hara di
kampus. Kami pun
punya agenda untuk
berkunjung ke acara
peresmian museum Multatuli
di Lebak, Banten.
Tepat di
hari sabtu, ternyata mahasiswa yang ikut
acara tersebut banyak
dari teman seangkatan yang berkumpul di lapangan kampus UPI Serang.
Kami berangkat bersama menggunakan
kereta pada pukul 07.30 WIB.
Selama perjalanan, posisi duduk saya berhadapan dengan Eva
Sulvianti pengurus dari TBM Rosa. Kami
ngobrol banyak mengenai kegiatan
masing-masing di dalam dan luar kampus. Dia adalah salah satu
mahasiswi yang terkenal aktif dan memiliki
jaringan luas di kampus.
Sepanjang
perjalanan selama 1 jam di kereta, kami
asyik ngobrol dan tidak sadar bahwa satu stasiun lagi kita akan berhenti di
tempat tujuan. Herannya, bapak yang berada disamping saya bangun dari tidurnya
dan langsung gabung dalam obrolan kami. Ternyata selama tidurnya, beliau
mendengar semua perbincangan kami. (Maaf, saya lupa nama bapak itu).
Beliau juga
memberitahu bahwa sedang aktif melakukan kegiatan sosial di Cilegon.
Kegiatannya sama seperti saya di KMP membagikan nasi gratis setiap jumat, hanya
saja target beliau ditunjukan kepada mereka yang berseragam orange (petugas
sampah/ bersih-bersih jalan). Saya pun meminta kontak beliau dengan harapan
bisa bekerja sama nanti ketika melakukan kegiatan akbar di daerah Baduy muslim
berada.
Saya,
Eva dan teman-teman lainnya pun
bersegera turun di stasiun rangkas dan pamit kepada bapak yang ingin bekerja
menuju kantornya tersebut
Pengalaman
luar biasa, kami tiba di stasiun dan langsung menuju meseum dengan angkot merah
yang ada disana. Eva mengajak kami semua bertemu dengan berbagai relawan TBM yang buka lapak, Tulus
Lamboy salah satu teman kami menampilkan pembacaan puisi diiringi musik dan
sorak-sorak dari pengunjung. Kemudian kami melakukan Swafoto untuk mengabadikan momen ini.
Kami
mengelilingi museum setelah resmi dibuka pukul 09.00 WIB. Ketika asyik melihat
setiap sudut ruang yang berisi foto, peta dan mini film yang menggambarkan
kisah tokoh Douwes Dekker, kami bertemu Kang Maman yang terkenal sebagai
notulen dan membacakan berita acara dengan apik.
Motor Literasi
Selanjutnya
kami pergi ke perpustakaan Saidjah
Adinda di Rangkasbitung yang berada tidak jauh dari museum. Di lantai ke dua
yang berisi buku dan sofa yang empuk kami
disambut dengan komunitas Moli (motor literasi). Bersama dengan teman-teman
lain dari berbagai daerah, kami saling Sharing
tentang literasi pada minat baca anak-anak dan teman seusia kami.
Bicara
tentang penting ga sih membaca? Kenapa minat baca orang Indonesia itu berada
diurutan kedua dari bawah?
Memang perlu
diketahui budaya membaca Indonesia memang sangat kurang dan menjadi PR bersama
untuk menyadarkan mereka agar senang membaca. Maka bagi penggiat literasi
sangat senang atas berdirinya TBM (Taman Bacaan Masyarakat) di lingkungan
sekitar. Sebagai tempat yang menarik orang-orang untuk menjadi bagian dalam
menggalakkan literasi.
Sebenarnya
cara ampuh membangun budaya baca itu harus diawali dari diri sendiri, jangan
sibuk mengkampanyekan ‘’Ayo baca” tapi tidak melakukannya.
Setelah
melakukan diskusi: Saya, Eva, Anis, Fadea, Restu, Pupu, Dede, Saepul, Wisnu dan
Tulus duduk di pelataran untuk membicarakan rencana membangun minat baca
mahasiswa di Kampus. Sekaligus momen ini dianggap sebagai rekrutmen relawan TBM
Rosa, hingga saya di invite dalam
grup WhatsApp-nya.
Rapat Pertama
Sesuai
dengan yang diagendakan, kami janjian untuk mengadakan rapat membahas kegiatan
literasi di Kampus dalam suasana pemilu presma masa jabatan 2018-2019.
Rapat
pertama berjalan dengan baik, namun sayangnya menjadi rapat karena
masing-masing dari kami memiliki kesibukkan memegang jabatan penting di organisasinya.
Bahkan ada yang terpilih mengisi jabatan
di kabinet Presma yang terpilih dan ditawari menjabat sebagai dewan
kampus. Namun ada juga yang memilih
menjadi mahasiswa biasa yang kritis.
Saya sendiri
pernah ditawari oleh presma dan ketua dewan kampus untuk membantu menjalankan
tugasnya. Namun sayangnya ke khawatiran saya benar terjadi. Saya memilih
menjadi dewan untuk mengawasi kinerja presma dan jajarannya di bidang
Komunikasi Politik. Namun saya mengakui tidak bekerja dengan maksimal, hingga akhirnya
saya memilih mengundurkan diri agar bisa mengkritisi politik kampus.
Mojok.Upi
Selanjutnya
saya di rekrut oleh dua manusia kampus yang langkah, yaitu Wisnu dan Tulus.
Kami memiliki rencana menjadi mahasiswa gelap dengan mata yang terang
benderang. Terinspirasi dari akun Mojok.co yang kritis dengan karya sastranya,
kami membuat akun dengan nama Mojok.Upi dengan mengkritisi masalah Wi-Fi yang
tidak bisa dijangkau maksimal oleh mahasiswa.
Namun,
lagi-lagi program ini tidak berjalan karena kesibukan kami. Terutama saya yag
tidak bisa fokus dan belum pernah upload kasus di akun tesebut.
Hingga kami
bertiga memulai kembali dengan kesibukan masing-masing, saya fokus pada
kegiatan luar di KMP dan merintis Forum Thalaabul ‘Ilmi sedangkan mereka fokus
menjadi tim pada salah satu Dosen yang berwawasan luas dan ilmiah bernama
Tatang Suratno.
Grup
TBM Rosa
Menjadi
suatu kebanggaan bisa gabung bersama teman-teman pencinta literasi. Disana
banyak diisi oleh orang-orang yang berkompeten dalam bidang menulis. Bahkan
sering mengadakan event untuk mengasah kemampuan menulis relawan dan
membacanya, yaitu dengan lomba menulis resensi buku setiap bulannya.
Sayangnya,
saya menjadi relawan yang jarang aktif. Hingga suatu ketika pengurus TBM Rosa
membuka pendaftaran bagi siapa saja yang berminat menjadi relawan dan
memutuskan yang tidak aktif untuk dikeluarkan dari grup. Saya pun menjadi salah
satu yang dikeluarkan.
Beberapa
bulan kemudian, dikala kesibukkan semester akhir yang penuh drama.
Tangerang, memanggil...
Pada siang
itu, posisi saya berada di perpustakaan SDN Tembong 2 sedang menjalankan Program
Lapangan (PPL). Tiba-tiba ada chat masuk, tapi hanya mengucapkan salam. Saya
penasaran dan akhirnya bertanya nama dan keperluan apa?
Ternyata dia adalah aktivis literasi dari Tangerang bernama Achmad Fadillah dengan pendidikan terakhir S2. Dia menanyakan bagaimana perkembangan literasi di kota Serang dan dia memberitahu pernah berkunjung kesini. Rupanya, kita pernah satu grup di TBM Rosa. Bahkan dia mengenal sosok Eva.
Jujur, saya
pikir dia masih muda. Ternyata dia sudah cukup dewasa dan berkeluarga dengan
memiliki 3 anak yang lucu-lucu.
Kak Fadhil
mengundang saya untuk membantu kegiatan pesantren literasi bulan Ramadhan tahun
2019 bersama TBM Benteng Betawi. Saya senang akan hal itu, tetapi saya tidak
lantas mengiyakan karena baru kenal dan sedang sibuk menggarap skripsi.
Tak sampai
disitu, kak Fadhil juga menjelaskan dia punya proyek untuk saya. Saya tertarik,
hingga akhirnya kita membuat janji untuk membahasnya.
Tepat H-7 Perayaan
hari raya idul fitri, kami bertemu di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari
rumah belakang Banjar Wijaya. Dia mengatakan memiliki Homeschooling, dimana kegiatan belajarnya hanya 3 kali dalam
seminggu. Program belajar ini lebih mengutamakan minat dan bakat.
Setiap bulan
akan ada yang namanya Outing Class untuk mereka belajar di luar ruangan. Biasanya
melakukan kunjungan ke Museum, taman safari, seminar dan lain-lain. Dia juga
menjelaskan tentang karakteristik dari siswanya yang beragam. Ada yang pendiam, tidak banyak bicara, dan juga super
aktif. Salah satu Alumni Sekolah Insan Mandiri sedang belajar berbisnis,
namanya Muhammad Raihan. M nama panggilannya ini yang akan membantu saya dalam
menjalankan dan bergantian jika saya berhalangan hadir.
Kak Fadhil memberikan saya kesempatan untuk berpikir dan mempertimbangkan agar mau bergabung bersamanya. Hingga setelah lebaran kami bertemu kembali di lokasi belajar yang berada di Jalan Flamboyan VI Taman Poris Gaga.
Ada hal-hal
yang saya pertimbangkan mengenai honor, waktu dan skripsi. Kemudian saya bertemu
dengan anak bernama Aulia Devina yang diam tapi sangat jago gambar itu. Lalu
bagaimana saya membuat keputusan dan cara berkomunikasi dengannya?
Nantikan
jurnal berikutnya..
Terima kasih, atas waktunya telah membaca jurnalku yang pertama.




0 komentar