Kontroversi Hagia Sophia, Menceritakan Kejayaan Islam di Eurasia




Islam datang membawa kedamaian bagi pemeluknya. Setiap ajarannya mengandung kebaikan bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Allahi wa Sallam sebagai utusan, telah menjadi seorang tokoh dunia yang paling berpengaruh dan sebaik-baiknya suri tauladan.

Sejarah islam telah menceritakan bagaimana perjalanan dakwah bagi setiap umat dan pemimpinnya, ketika berjuang menyebarluaskan islam. Sayangnya, perjuangan tak semudah itu karena mereka sulit menerima ajaran baru diluar dari nenek moyangnya. Namun Rasulullah SAW memberikan contoh bagi pengikutnya agar tetap teguh memperjuangkan islam, meski mendapatkan ponalakan dari keluarganya sekali pun.

Begitu pula yang diajarkan Rasulullah kepada sahabat dan generasi muslim terbaik yang kita kenal sebagai pejuang islam, seperti: Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin  Abu Thalib, Abdurahman bin Auf, Mua’wiyah bin Abdul Muthalib, Khalid bin Walid, Umar bin Abdul Aziz, Muhammad Al-Fatih, Salahuddin Al-Ayubi, dan lainnya.

Proses penyebaran islam di berbagai belahan dunia melahirkan kisah baru dari tokoh-tokoh muslim terbaik dalam menaklukan wilayah. Keberhasilan islam menguasai satu kota ke kota lain membuat kebanggaan bagi umat muslim karena ajaran islam akan mewarnai dunia dengan damai. Salah satu bangunan bersejarah yang ditaklukan islam, kini menjadi perhatian dunia adalah Hagia Shopia, dimana artistektur bangunannya sangat kental akan budaya islam, meski corak ortodoks tetap menghiasi dinding atasnya.

Keputusan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengembalikan museum Hagia Shopia sebagai masjid menuai kontroversi. Dunia menentang langkah Erdogan, kritik bermunculan dari pemimpin Negara dan pemimpin agama dunia. Paus Fransiskus mengungkapkan kekecewaanya atas perubahan status tersebut. Sedangkan umat muslim di seluruh dunia gembira dan berantusias ingin shalat berjamaah di masjid Hagia Sophia yang juga diresmikan pada hari jum’at 24 juli 2020.

            Selama 15 abad terakhir Hagia Sophia menjadi saksi bisu sejarah berlangsungnya transisi rezim yang menguasai Konstantinopel (Istanbul), mulai dari kuil pagan, Kekaisaran Byzantium penganut Katolik Ortodoks, Kesultanan Ottoman (Utsmaniyah) sampai era Turki modern. Lalu bagaimana Islam memberikan pengaruh pada Hagia Shopia yang berada diantara benua Eropa dan benua Asia tersebut?  Yuk, simak tulisannya.

 


Hagia Shopia

Dilansir dari History.com, Hagia Sophia dalam bahasa Turki disebut Ayasofya pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad lamanya.

Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun, namun pernah dilarang pada periode singkat di abad ke-13, ketika tempat ini diubah menjadi Katedral Katolik Roma dibawah kontrol pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib Keempat.

Tetapi pada tahun 1453, Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II menguasai Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium untuk selamanya.

Saat memasuki Hagia Sophia, Mehmed II berkeras untuk merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Sultan Mehmed II menghadiri salat Jumat pertama di gedung itu. Sedangkan para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya. Sampai penyelesaian pembangunan Masjid Biru di Istanbul pada 1616, Hagia Sophia adalah masjid utama di kota tersebut, dan arsitekturnya mengilhami pembangunan Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia.

Sultan Mehmed II Sang Penakluk Konstantinopel

Status Hagia Sophia dikonversi menjadi masjid setelah penaklukan konstantinopel oleh Sultan Mehmed II. Nama Hagia Sophia masih dipertahankan oleh Sultan Mehmed II. Sebagaimana arti kata sophia dalam bahasa Yunani adalah kebijaksanaan, maka arti lengkap dari Hagia Sophia adalah tempat suci bagi Tuhan. Sultan Mehmed II mempertahankan kesucian Hagia Sophia dan hanya mengubah status fungsinya dari gereja menjadi tempat ibadah umat Islam selama 482 tahun.

Saat berubah menjadi masjid di era Mehmed II, banyak mosaik dan lukisan bercorak Kristen yang menghiasai bangunan Hagia Sophia, ditutupi dan diplester. Seniman kaligrafi terkenal pada masa itu, Kazasker Mustafa İzzet, kemudian mengguratkan tulisan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, empat khalifah pertama, dan dua cucu Rasulullah SAW, di beberapa bagian interior Hagia Sophia.

Pada masa Kesultanan Ottoman, struktur bangunan Hagia Sophia memperoleh sentuhan arsitektur Islam. Misalnya, mihrab yang kemudian dibangun, hingga pendirian empat menara yang digunakan sebagai fitur dekoratif masjid.  Menara ini berfungsi praktis untuk panggilan adzan  dan pengumuman lainnya. Namun, bagi  Ottoman menara merupakan simbol fisik yang kuat dari kemenangan Islam, bukti eksternal dari konversi arsitektur Kristen ke Islam. Tidak mengherankan, jika dikatakan bahwa menara pertama didirikan di Hagia Sofia adalah penanda Islam. Daripada menghancurkan peninggalan budaya, Mehmet II mengambil alih kembali “prestise” dan kekuatan simbolis Hagia Sofia untuk tujuan politiknya sendiri.

Sekulerisasi Ala Mustafa Kemal Ataturk

            Berakhirnya kesultanan Ottoman, telah melahirkan pemerintahan Kemal Ataturk dengan mengubah Turki menjadi Republik. Hagia Sophia pun kembali beralih fungsi. Sebagai pendiri dan presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Setelah Hagia Sophia menjadi museum, dilakukan restorasi mosaik-mosaik kuno di bangunan ini dan plester penutupnya dibuka. Maka pada saat membuka plester ornamennya, tampaklah lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus, yang ternyata sejajar dengan kaligrafi Allah dan Muhammad SAW.

Bagaimanapun Hagia Shopia menjadi simbol kemenangan Islam atas  Kekristenan di bawah kesultanan Ottoman. Pengalihan fungsi Hagia Sofia menjadi  musuem oleh Pemerintah Republik Turki baru adalah manuver politik yang disengaja untuk menunjukkan agenda sekuler baru rezim Ataturk dengan menelanjangi salah satu simbol keagamaan paling penting dalam sejarah. Namun, konversi menjadi monumen ditengarai untuk menghindari konflik antara dua agama: Kristen dan Islam  yang telah mengklaim bangunan berusia berabad-abad tersebut  menjadi simbol kontroversi agama dan meningkatnya politisasi.

Hagia Sophia kemudian diakui sebagai salah satu dari situs Warisan Dunia UNESCO yang disebut area bersejarah Istanbul, sejak tahun 1985. Dalam keputusan itu dinyatakan,   karena signifikansi sejarahnya, alih fungsi Masjid Hagia Sofia, sebuah monumen seni arsitektur unik yang terletak di Istanbul, menjadi museum akan menyenangkan seluruh dunia Timur, dan konversi ke museum akan membuat umat manusia memperoleh sebuah institusi pengetahuan yang baru.

Hagia Sophia telah menjadi sangat terpolitisasi dan menjadi kontestansi antara Kristen, Islam, dan sekularisme.  Partai-partai yang berhaluan kanan saling menggantikan, dan pada Januari 1989, Ertekin Durutürk, yang dikenal sangat dekat dengan Demirel, mengusulkan RUU pada Majelis Nasional Turki, meminta Hagia Sofia untuk dibuka  kembali sebagai masjid dan  Alquran dibaca sepanjang waktu di bagian Relik Suci Istana Topkapi. Antara 1989 dan 1994, suara  ekstrim kanan meningkat dari 13,90% menjadi 28,66%, membenarkan kebangkitan Fundamentalisme Islam, dan khususnya pemulihan Hagia Sofia sebagai bagian dari ikon tujuan mereka. 

 

Recep Tayyip Erdogan Mengulang Sejarah

Status Hagia Sophia hingga kini masih diperdebatkan, termasuk mengembalikan fungsi bangunan tersebut sebagai rumah ibadah bagi umat islam yang di resmikan oleh Presiden Turki saat ini.

Presiden Erdogan telah menggaungkan tuntutan tersebut. Pada pidato kampanye menjelang pemilihan lokal tahun lalu, dia mengatakan mengubah Hagia Sophia menjadi museum merupakan kesalahan besar. Sejak saat itulah, Erdogan dilaporkan meminta para pejabat terkait untuk mengetahui bagaimana mengubah fungsi bangunan bersejarah itu.

Perjalanan panjang Hagia Sophia pada Era Pemerintahan Erdogan saat ini memutar lagi. Karena putusan pengadilan administrasi utama Turki, status Hagia Sophia sebagai museum dicabut pada 10 Juli 2020. Pada masa pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan ini, Hagia Sophia diubah status fungsinya kembali menjadi masjid. Perubahan ini menuai kontroversi. Begitu kontroversialnya, Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis dari Yunani menuding keputusan itu sebagai penghinaan terhadap karakter ekumenis dari Hagia Sophia.

Sementara itu, UNESCO memberi peringatan bahwa perubahan status Hagia Sophia harus ditinjau oleh komite badan PBB tersebut. Oleh karena Hagia Sophia sejak 1985 dianggap bagian dari Situs Warisan Dunia, pengubahan status bangunan ini harus diberitahukan terlebih dahulu dan melalui proses peninjauan UNESCO. "Penting untuk menghindari keputusan apa pun sebelum berunding dengan UNESCO, yang akan memengaruhi akses fisik ke situs, struktur bangunan, properti yang dapat dipindahkan, atau manajemen situs bersejarah," kata Ernesto Ottone, Asisten Direktur UNESCO belum lama ini.

Menurut UNESCO, tindakan-tindakan semacam itu bisa dianggap pelanggaran aturan yang sudah tertera di Konvensi Warisan Dunia 1972.  Rencana Erdogan membuat amarah di Yunani. Menteri Luar Negeri Yunani George Katrougalos mengatakan bahwa persoalannya bukan karena katedral Kristen yang terbesar selama berabad abad, namun juga milik umat manusia yang telah diakui Oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya global. Maka setiap pernyataan tentang status Hagia Sofia bukan hanya penghinaan terhadap sentimen orang Kristen, tetapi penghinaan terhadap komunitas internasional dan hukum internasional.

Walau keputusannya tersebut  mendapatkan penolakan secara terbuka, Presiden Recep Tayyip Erdogan tetap teguh dengan menandatangani dekrit yang telah dibuat. Sedangkan media juga ikut berperan dengan memberikan Framing kepada Erdogan sebagai pemimpin yang buruk. Menjadikan Hagia Shopia sebagai masjid kembali merupakan kekeliruan besar  dan dianggap melukai hati umat manusia di dunia, karena status Hagia Sophia sebelumnya adalah museum sejarah dan telah menjadi warisan dunia yang tercatat oleh UNESCO.

Peresmian masjid Hagia Sophia menjadi bukti pengulangan sejarah bagi umat islam yang sebelumnya bangunan megah bersejarah tersebut berhasil ditaklukan oleh pasukan terbaik dari pemimpin terbaik bernama Sultan Mehmed II atau dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih. Kisah ini  sesuai sabda Rasulullah SAW,  “Sesungguhnya            akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu,  dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhari 139)

Demikian tulisan tentang Hagia Sophia yang mengkisahkan kembali perjuangan umat islam masa lalu hingga saat ini. Semoga ­ghirah pembaca semakin tinggi terhadap islam.

Jazakumullah khairan katsiraan..

 


Referensi

Sokarba, S. R. (2020). Transformasi Makna Ruang dan Tempat pada Hagia Sofia, Istanbul,

Turki. Jurnal Middle East and Islamic Studies, 7 (1).

https://dunia.tempo.co/read/1364070/sejarah-hagia-sophia-dari-gereja-masjid-hingga-museum?page_num=1

https://tirto.id/sejarah-hagia-sophia-museum-yang-dijadikan-masjid-oleh-erdogan-fQVy

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53259317

https://youtu.be/QeOMzLqSSeM

0 komentar